Senin, 29 Juni 2015

Hama Penyakit Tanaman Jagung dan Pengendaliannya



HAMA TANAMAN JAGUNG
Beberapa jenis hama yang merusak  tanaman Jagung, gejala kerusakan dan pengendaliannya adalah  sebagai berikut :

Ulat Tanah (Agrotis sp.)

  • Gejala :  menyerang tanaman jagung muda di malam hari, sedangkan siang harinya bersembunyi di dalam tanah. Ulat tanah menyerang batang tanaman jagung muda dengan cara memotongnya, akhirnya tanaman jagung mati.
  • Pengendalian : (1) dapat dilakukan menggunakan insektisida biologi dari golongan bakteri seperti Bacilius thuringiensis atau insektisida biologi dari golongan jamur seperti Beauvaria bassiana; (2) insektisida Dursban 20 EC, dengan dosis 2 ml tiap 1 liter air. Tiap hectare dapat digunakan 500 liter larutan

Ulat daun (Prodenia litura)
  • Gejala : menyerang bagian pucuk daun, umur tanaman yang diserang 1 bulan dan daun tanaman bila sudah besar menjadi rusak.
  • Pengendalian : Pencegahan dxengan penyemprotan insektisida folidol, basudin, diazinon dan agrocide dengan ukuran 1,5 cc dalam tiap 1 liter air.

Lalat bibit (Atherigona exigua)

  • Gejala  : ada bekas gigitan pada daun, pucuk daun layu, dan akhirnya tanaman jagung mati.
  • Pengendalian : (1) Pengendalian Hayati : Parasitoid yang memarasit telur adalah Trichogramma spp, dan parasit larva adalah Opius sp. Dan Tetrastichus sp. Predator Clubiona japonicola yang merupakan predator imago; (2) Kultur teknis dan pola tanam yaitu oleh karena aktivitas lalat bibit hanya selama 1 – 2 bulan pada musim hujan, maka dengan mengubah waktu tanam, pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi, tanaman dengan tanaman bukan padi, dengan tanam serempak serangan dapat dihindari; (3) Varietas Resisten yaitu Galur-galur jagung QPM putih yang tahan terhadap lalat bibit adalah MSQ-P1 (S1)-C1-12, MSQ-P1(S1)-C1-44, MSQ-P1(S1)-C1-45, sementara galur-galur jagung QPM kuning yang tahan terhadap serangan hama ini adalah MSQ-K1(S1)-C1-16, MSQ-K1(S1)-C1-35, MSQ-K1(S1)-C1-50; (4) Kimiawi dengan menghembuskan HCH 5% pada saat berumur 5 hari. Atau pengobatan dengan penyemprotan insektisida Hostathion 40EC, sebanyak 2cc tiap liter air dengan volume semprotan 100 liter tiap hektar lahan jagung atau menggunakan insektisida dapat dilakukan saat perlakuan benih menggunakan thiodikarb (dosis 7,5-15 g b.a./kg benih) atau karbofuran (dosis 6 g b.a./kg benih). Selanjutnya setelah tanaman jagung berumur 5-7 hari, tanaman disemprot menggunakan karbosulfan (dosis 0,2 kg b.a./ha) atau thiodikarb (0,75 kg b.a/ha). Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah endemik.

Ulat Grayak (Spodoptera sp.)
  • Gejala : Larva kecil merusak daun serta menyerang secara serentak bergerombol dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan bahkan tinggal tulang daunnya saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi saat musim kemarau.
  • Pengendalian : (1) Pengendalian secara fisik menggunakan alat perangkap ngengat sex feromonoid sebanyak 40 buah/Ha semenjak tanaman jagung berumur 2 minggu; (2) Penggunaan agensia hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami seperti: Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, atau Metarhizium anisopliae. Dapat juga dari golongan bakteri seperti Bacillus thuringensis. Pemanfaatan patogen virus untuk ulat ini juga dapat dilakukan menggunakan Sl-NPV (Spodoptera litura - Nuclear Polyhedrosis Virus). Parasit lain yang dapat dimanfaatkan adalah Parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, atau Peribeae sp; (3) Secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penggerek Batang (Ostrinia fumacalis)

  • Gejala : Larva O. Furnacalis ini mempunyai karakteristik membuat kerusakan di setiap bagian tanaman jagung yaitu membentuk lubang kecil pada daun, lubang gorokan di batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, serta tumpukan tassel yang rusak.
  • Pengendalian : (1) Kultur teknis; (2) Waktu tanam tepat; (3) Tumpangsari jagung dengan kedelai atau kacang tanah; (4) Pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman) (5) Hayati pemanfaatan musuh alami seperti : Parasitoid Trichogramma sp.. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. Furnacalis. Predator Euborellia annulata. Predator ini selain memangsa larva juga pupa O. Furnacalis.  Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. Furnacalis,Cendawan Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae mengendalikan larva O. Furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva/tanaman; (6) Kimiawi. Penggunaan insektisida berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, atau karbofuran efektif untuk menekan serangan penggerek batang jagung.

Penggerek Tongkol (Heliotis armigera, Helicoverpa armigera.)

  • Gejala : Imago betina akan meletakkan telur pada silk (rambut) jagung. Rata-rata produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah diletakkan dan sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk ke dalam tongkol jagung lalu memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas mupun kuantitas tongkol jagung. Pada lubang–lubang bekas gorokan hama ini terdapat kotoran–kotoran yang berasal dari hama tersebut, biasanya hama ini lebih dahulu menyerang bagian tangkai bunga.
  • Pengendalian : (1)  Kultur teknis dengan pengolahan tanah yang baik akan merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi H. Armigera berikutnya; (2)   Pengendalian Hayati dengan musuh alami yaitu  Parasit, Trchogramma spp yang merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit pada larva muda. Cendawan, Metarhizium anisopliae.menginfeksi larva. Bakteri, Bacillus thuringensis dan Virus Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV).menginfeksi larva; (3)   Kimiawi Untuk mengendalikan larva H. Armigera pada jagung, penyemprotan insektisida Decis dilakukan setelah terbentuknya rambut jagung pada tongkol dan diteruskan (1-2) hari hingga rambut jagung berwarna coklat.

Belalang (Locusta sp., dan Oxya chinensis)

  • Gejala : Hama ini menyerang terutama di bagian daun, daun terlihat rusak karena serangan dari belalang tersebut, jika populasinya banyak serta belalang sedang dalam keadaan kelaparan, hama ini bisa menghabiskan tanaman jagung sekaligus sampai tulang–tulang daunnya.
  • Pengendalian : secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Kumbang Bubuk (Sitophilus zeamais Motsch)

  • Gejala : Merusak biji jagung saat penyimpanan dan juga dapat menyerang tongkol jagung di lahan. Telur diletakkan satu per satu di lubang gerekan di dalam biji, larva menggerek biji jagung serta hidup di dalam biji.
  • Pengendalian: (1) Pengelolaan Tanaman. Serangan selama tanaman masih di lahan dapat terjadi jika tongkol terbuka. Tanaman yang kekeringan, dengan pemberian pupuk rendah menyebabkan tanaman mudah terserang busuk tongkol sehingga dapat diinfeksi oleh kumbang bubuk. Panen tepat waktu saat jagung mencapai masak fisiologis dapat mencegah Sitophilus zeamais, karena pemanenan tertunda dapat menyebabkan meningkatnya kerusakan biji jagung saat penyimpanan; (2) Varietas Resisten/Tahan. Penggunaan varietas dengan kandungan asam fenolat tinggi dan kandungan asam aminonya rendah dapat menekan kumbang bubuk, serta penggunaan varietas berpenutup kelobot yang baik; (3) Kebersihan dan Pengelolaan Gudang. Kebanyakan hama gudang cenderung bersembunyi atau melakukan hibernasi sesudah gudang tersebut kosong. Untuk itu harus dibersihkan semua struktur gudang serta membakar semua biji yang terkontaminasi. Biji-biji terkontaminasi ini dijauhkan dari area gudang, lalu dimusnahkan. Selain itu, karung-karung bekas yang masih berisi sisa biji jagung juga harus dibuang. Semua struktur gudang diperbaiki, termasuk dinding retak, dimana serangga dapat bersembunyi di dinding retak. Pada dinding maupun plafon gudang disemprot menggunakan insektisida; (4) Persiapan Biji Jagung Simpanan. Sebelum penyimpanan, perhatikan kadar air dalam biji jagung. Kadar air biji ≤ 12% dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Perkembangan populasi kumbang bubuk akan meningkat pada kadar air 15% atau lebih; (5) Fisik dan Mekanis. Ketika suhu lebih rendah dari 50°C dan di atas 35°C perkembangan serangga akan berhenti. Penjemuran dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Sortasi dilakukan dengan memisahkan biji rusak yang terinfeksi oleh serangga dengan biji sehat (utuh); (6) Bahan Tanaman.Pengendalian hama kumbang bubuk selama budidaya jagung dapat menggunakan bahan organik dari tanaman, seperti daun Annona sp., Hyptis spricigera, Lantana camara, daun Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata, akar dari Khaya senegelensis, Acorus calamus, bunga dari Pyrethrum sp., Capsicum sp., maupun tepung biji dari Annona sp. dan Melia sp.; (7) Hayati. Penggunaan agensi patogen dapat mengendalikan kumbang bubuk seperti Beauveria bassiana pada konsentrasi 109 konidia/ml takaran 20 ml/kg biji dapat mencapai kematian 50%. Penggunaan parasitoid Anisopteromalus calandrae juga mampu menekan kumbang bubuk; (8) Fumigasi Fumigan merupakan senyawa kimia dimana senyawa ini dalam suhu serta tekanan tertentu berbentuk gas. Fumigan dapat membunuh serangga/hama melalui sistem pernapasan. Fumigasi dapat dilakukan di tumpukan komoditas jagung kemudian ditutup rapat menggunakan lembaran plastik. Fumigasi dapat pula dilakukan saat penyimpanan kedap udara seperti penyimpanan dalam silo, menggunakan kaleng kedap udara atau pengemasan menggunakan jerigen plastik, botol yang diisi sampai penuh kemudian mulut botol atau jerigen dilapisi parafin untuk penyimpanan skala kecil. Fumigasi menggunakan phospine (PH3), atau Methyl Bromida (CH3Br).

Kutu Daun (Mysus persicae)

  • Gejala : Hama ini mengisap cairan tanaman jagung terutama pada daun muda, kotorannya berasa manis sehingga mengundang semut serta berpotensi menimbulkan serangan sekunder yaitu cendawan jelaga. Serangan parah menyebabkan daun tanaman mengalami klorosis(menguning), serta menggulung. Kutu daun Mysus juga menjadi serangga vektor penular virus mosaik
  • Pengendalian: dapat menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.



PENYAKIT TANAMAN JEGUNG

Beberapa jenis  penyakit yang merusak  tanaman Jagung, gejala kerusakan dan pengendaliannya adalah  sebagai berikut :
Hawar Daun (Helmithosporium turcicum)

  • Gejala : Awal terinfeksinya hawar daun, menunjukkan gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik (disebut hawar), warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5-15 cm, bercak muncul di mulai dari daun terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat akibat serangan penyakit hawar daun dapat mengakibatkan tanaman jagung cepat mati atau mengering. Cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot jagung, cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada daun atau sisa-sisa tanaman di lahan.
  • Pengendalian : (1) Menanam varietas tahan hawar daun, seperti : Bisma, Pioner-2, pioner-14, Semar-2 dan semar-5; (2) Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman) pada tanaman terinfeksi bercak daun; (3) Penyemprotan fungisida menggunakan bahan aktif mankozeb atau dithiocarbamate. Dosis/konentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Busuk Pelepah (Rhizoctonia solani)

  • Gejala : Penyakit busuk pelepah pada budidaya jagung umumnya terjadi di pelepah daun, gejalanya terdapat bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah menjadi abu-abu, selanjutnya bercak meluas, seringkali diikuti pembentukan sklerotium berbentuk tidak beraturan, berwarna putih kemudian berubah menjadi cokelat.
  • Pengendalian : (1)  Menggunakan varietas/galur tahan sampai agak tahan terhadap penyakit hawar pelepah seperti : Semar-2, Rama, Galur GM 27; (2) Diusahakan agar penanaman jagung tidak terlalu rapat sehingga kelembaban tidak terlalu tinggi; (3) Lahan memiliki drainase baik; (4) Pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama ; (5) Penyemprotan fungisida menggunakan bahan aktif mancozeb atau karbendazim. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Bulai (Peronosclerospora maydis)

  • Gejala : Gejala khas penyakit bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar tulang daun dengan batas terlihat jelas antara daun sehat. Bagian daun permukaan atas maupun bawah terdapat warna putih seperti tepung, sangat jelas di pagi hari. Selanjutnya pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat, termasuk pembentukan tongkol buah, bahkan tongkol tidak terbentuk, daun-daun menggulung serta terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan.
  • Pengendalian : (1) Menanam varietas tahan penyakit bulai seperti varietas Bima 1, Bima 3, Bima 9, Bima 14, Bima 15, Lagaligo, atau Gumarang; (2) Melakukan periode waktu bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan; (3) Penanaman jagung secara serempak; (4) Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman) pada tanaman terserang penyakit bulai; (5) Penggunaan fungisida metalaksil saat perlakuan benih dengan dosis 2 gram (0,7 g bahan aktif) per kg benih

Busuk Tongkol
Penyakit busuk tongkol dapat disebabkan oleh beberapa jenis cendawan antara lain:
a. Busuk tongkol Fusarium

  • Gejala : Gejala penyakit ini ditandai permukaan biji tongkol jagung berwarna merah jambu sampai coklat, kadang-kadang diikuti oleh pertumbuhan miselium seperti kapas berwarna merah jambu. Cendawan berkembang baik pada sisa tanaman maupun di dalam tanah, cendawan ini dapat terbawa benih, penyebarannya dapat melalui angin atau tanah. Penyakit busuk tongkol Fusarium disebabkan oleh infeksi cendawan Fusarium moniliforme.



b.  Busuk tongkol Diplodia

  • Gejala : Serangan busuk tongkol diplodia ditandai adanya warna coklat pada klobot. Jika infeksi terjadi setelah 2 minggu keluarnya rambut jagung menyebabkan biji berubah menjadi coklat, kisut akhirnya busuk. Miselium cendawan diplodia berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada kelobot. Infeksi dimulai dari dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat ke permukaan biji serta menutupi kelobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora dan piknidia berdinding tebal pada sisa tanaman di lahan. Gejala busuk tongkol Diplodia disebabkan oleh infeksi cendawan Diplodia maydis.

c. Busuk tongkol Gibberella

  • Gejala : Serangan dini pada tongkol jagung dapat menyebabkan tongkol jagung menjadi busuk, kelobotnya saling menempel erat pada tongkol, serta buahnya berwarna biru hitam di permukaan kelobot maupun bongkol. Gejala busuk tongkol Gibberella disebabkan oleh infeksi cendawan Gibberella roseum.
  • Pengendalian :  (1) Menggunakan pemupukan berimbang; (2)  Tidak membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lahan, jika musim hujan bagian batang di bawah tongkol dipotong agar ujung tongkol tidak mengarah ke atas; (3)  Pergiliran tanaman mengunakan tanaman bukan termasuk padi-padian, karena patogen ini mempunyai banyak tanaman inang.
 
Busuk Batang

  • Gejala : Tanaman jagung terserang penyakit ini tampak layu atau kering seluruh daunnya. Umumnya gejala tersebut terjadi pada stadia generatif, yaitu setelah fase pembungaan. Pangkal batang terserang berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan, bagian dalam batang busuk, sehingga mudah rebah, serta bagian kulit luarnya tipis. Pangkal batang teriserang akan memperlihatkan warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat. Penyakit busuk batang jagung dapat disebabkan oleh delapan spesies/cendawan seperti Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apanidermatum, Cephalosporium maydis, dan Cephalosporium acremonium.
  • Pengendalian : (1)  Menanam varietas tahan serangan penyakit busuk batang seperti BISI-1, BISI-4, BISI-5, Surya, Exp.9572, Exp. 9702, Exp. 9703, CPI-2, FPC 9923, Pioneer-8, Pioneer-10, Pioneer-12, Pioneer-13, Pioneer-14, Semar-9, Palakka, atau J1-C3; (2) Melakukan pergiliran tanaman; (3) Melakukan pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K rendah; (4) Drainase baik; (5) Pengendalian penyakit busuk batang (Fusarium) secara hayati dapat dilakukan dengan cendawan antagonis Trichoderma sp.

Karat Daun (Puccinia polysora)

  • Gejala : Bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat di permukaan daun jagung bagian atas maupun bawah, uredinia menghasilkan uredospora berbentuk bulat atau oval serta berperan penting sebagai sumber inokulum dalam menginfeksi Tanaman jagung lainnya, sebarannya melalui angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi, infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau. Penyebab Penyakit karat disebabkan oleh Puccinia polysora
  • Pengendalian : (1) Menanam varietas tahankarat daun, seperti Lamuru, Sukmaraga, Palakka, Bima-1 atau Semar-10; (2) Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman) pada tanaman terinfeksi karat daun maupun gulma; (3) Penyemprotan fungisida menggunakan bahan aktif benomil. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Bercak Daun (Bipolaris maydis Syn.)

  • Gejala : Penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe menurut ras patogennya yaitu ras O dan T. Ras O bercak berwarna coklat kemerahan berukuran 0,6 x (1,2-1,9) cm, sedangkan Ras T bercak berukuran lebih besar yaitu (0,6-1,2)x(0,6-2,7) cm. Ras T berbentuk kumparan, bercak berwarna hijau kuning atau klorotik kemudian menjadi coklat kemerahan. Kedua ras ini, ras T lebih berbahaya (virulen) dibanding ras O. Serangan pada bibit tanaman menyebabkan tanaman menjadi layu atau mati dalam waktu 3-4 minggu setelah tanam. Tongkol terserang/terinfeksi dini menyebabkan bijinya akan rusak lalu busuk, bahkan tongkol jagung dapat gugur. Bercak pada ras T terdapat di seluruh bagian tanaman (baik daun, pelepah, batang, tangkai kelobot, biji, maupun tongkol jagung). Permukaan biji terinfeksi tertutup miselium berwarna abu-abu sampai hitam sehingga dapat menurunkan hasil produksi secara signifikan. Cendawan ini dalam bentuk miselium dan spora dapat bertahan hidup dalam sisa tanaman di lahan atau pada biji jagung di penyimpanan. Konidia yang terbawa angin atau percikan air hujan dapat menimbulkan infeksi pertama pada tanaman jagung. Penyebab Penyakit bercak daun penyebabnya adalah Bipolaris maydis Syn. Pada B. maydis ada dua ras yaitu ras O dan ras T.
  • Pengendalian : (1) Menanam varietas tahan serangan bercak daun, seperti Bima-1, Srikandi Kuning-1, Sukmaraga atau Palakka; (2) Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai akarnya (Eradikasi tanaman) pada tanaman terinfeksi bercak daun; (3) Penggunaan fungisida menggunakan bahan aktif mancozeb atau karbendazim. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Virus Mosaik

  • Gejala :  Ditandai tanaman jagung menjadi kerdil, daun berwarna mosaik atau hijau dengan diselingi garis-garis kuning, jika dilihat secara keseluruhan tanaman tampak berwarna agak kekuningan mirip gejala bulai namun permukaan daun bagian bawah maupun atas apabila dipegang tidak terasa adanya serbuk spora. Penularan virus dapat terjadi secara mekanis atau melalui serangga Myzus percicae dan Rhopalopsiphum maydis secara nonpersisten. Tanaman jagung terinfeksi virus ini umumnya menjadikan penurunan hasil secara signifikan.
  • Pengendalian : (1) Mencabut tanaman jagung terinfeksi virus seawal mungkin agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman musim mendatang; (2)  Melakukan pergiliran tanaman, tidak menanam tanaman jagung secara terus menerus di lahan yang sama; (3)  Penyemprotan pestisida apabila di lapangan populasi vektor cukup tinggi. Dosis/konsentrasi tidak melebihi anjuran dalam kemasan; (4)  Tidak menanam benih jagung  dari tanaman terinfeksi virus.

Rabu, 24 Juni 2015

Hama dan Penyakit Tanaman Padi



Berbagai jenis hama dan penyakit yang menyebabkan  kerusakan tanaman padi, gejala dan pengendaliannya sebagai berikut :


Wereng Coklat (Nilaparvata lugens)


  • Gejala : Terdapatnya imago wereng coklat pada tanaman dan menghisap cairan tanaman pada pangkal batang, kemudian tanaman menjadi menguning dan mengering.
  • Pengendalian: (1) Bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR- 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) Penyemprotan Beauveria bassiana;  (3) menggunakan insektisida sistemik Winder 100EC (0,25-0,5 ml/L), Winder 25WP (0,125-0,5 g/L), WinGran 0,5GR ditaburkan merata.

Wereng Hijau (Nephotettix virescens)


  • Gejala : Tanaman kerdil, anakan berkurang, daun berubah menjadi kuning sampai kuning oranye.
  • Pengendalian: (1) Bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR- 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) Penyemprotan Beauveria bassiana; (3) menggunakan insektisida sistemik Winder 100EC (0,25-0,5 ml/L), Winder 25WP (0,125-0,5 g/L), WinGran 0,5GR ditaburkan merata.

Penggerek Batang
Penggerek batang padi terdiri atas: penggerek batang padi putih (Tryporhyza innotata), kuning (T. incertulas), bergaris (Chilo supressalis) dan merah jambu (Sesamia inferens). 

  •  Gejala: Menyerang batang dan pelepah daun, pucuk tanaman layu, kering berwarna kemerahan dan mudah dicabut, daun mengering dan seluruh batang kering. Kerusakan pada tanaman muda disebut hama “sundep” dan pada tanaman bunting (pengisian biji) disebut “beluk”. 
  • Pengendalian: (1) Menggunakan varitas tahan, meningkatkan kebersihan lingkungan, menggenangi sawah selama 15 hari setelah panen agar kepompong mati, membakar jerami; (2) menggunakan Beauveria bassiana atau Pestisida organik cair. (3) Menggunakan insektisida WinGran 0,5GR (8-12 kg/hektar) dengan ditaburkan dicampur pupuk saat pemupukan pertama/dasar, penyemprotan dengan Matrix 200EC (2 ml/L) dan Trisula 450SL (0,5-1,5 ml/L) secara bergantian sejak tanaman padi berumur 2 minggu setelah tanam sampai malai padi keluar semua dengan interval 7-10 hari.

Thrips (Thrips oryzae).

  • Gejala: Daun menggulung dan berwarna kuning sampai kemerahan, pertumbuhan bibit terhambat, pada tanaman dewasa gabah tidak berisi. 
  • Pengendalian: Beauveria bassiana atau Pestisida organik cair.

Walang sangit (Leptocoriza acuta).

  • Gejala: Menyerang buah padi yang masak susu, buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada daun terdapat bercak bekas isapan dan bulir padi berbintik-bintik hitam. 
  • Pengendalian: (1) Bertanam serempak, peningkatan kebersihan, mengumpulkan dan memusnahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik, laba-laba; (2) Penyemprotan Beauveria bassiana atau Pestisida Organik Cair; (3) Pengendalian dianjurkan dilakukan pada saat gabah masak susu pada umur 70-80 hari setelah tanam dengan disemprot insektisida Greta 500EC (1-2 ml/L).

Hama Ganjur (Pachydiplosis oryzae)

  • Gejala: Daun padi akan menggulung seperti daun bawang, sehingga tanaman yang terserang tidak dapat menghasilkan malai.
  • Pengendalian: (1) Dengan melakukan pembersihan sekitar lahan penanaman dari rumput dan padi liar yang dapat menjadi tempat persembunyian atau inang alternatif. Melakukan penanaman padi serempak dengan menggunakan varietas yang tahan; (2) Pengendalian dianjurkan menggunakan insektisida berbahan aktif Karbosulfan seperti Matrix 200EC (2 ml/L) yang bekerja secara sistemik.

Ulat Grayak (Armyworm)

  • Gejala:  Daun hanya tinggal  tulang daun dan batang akibat dimakan ulat.
  •  Pengendalian: Menyemprot dengan Matrix 200EC dengan konsentrasi 1-2 mililiter per liter bergantian dengan Promectin 18EC dengan konsentrasi 0,5-1 mililiter per liter.

 Hama Putih Palsu (Chanaphalocrosis medinalis)

  •  Gejala:  Larva akan memakan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih.
  • Pengendalian: (1) Tidak diperkenankan menyemprot insektisida sebelum tanaman berumur 30 hst atau 40 hari setelah sebar benih. Tanaman padi yang terserang pada fase ini, dapat pulih apabila air dan pupuk dikelola dengan baik.  Atau dengan mencegah penggenangan lahan secara terus menerus dan mengeringkan sawah selama beberapa hari untuk membunuh larvanya; (2) Tindakan pencegahan dapat pula dilakukan dengan menaburkan Ventura 5GR bersamaan pemupukan dasar dengan dosis 5-10 kg/hektar. Untuk pengendaliannya dianjurkan menyemprot dengan Matrix 200EC dengan konsentrasi 1-2 mililiter per liter bergantian dengan Promectin 18EC dengan konsentrasi 0,5-1 mililiter per liter.

Hama Putih (Nymphula depunctalis)

  • Gejala:  Hama akan memakan jaringan permukaan bawah daun sehingga tampak garis-garis memanjang berwarna putih. Kerusakan pada daun yang khas yaitu daun terpotong seperti digunting. Daun yang terpotong tersebut dibuat menyerupai tabung yang digunakan larva untuk membungkus dirinya (terbungkus dengan benang-benang sutranya).
  • Pengendalian: Tindakan pencegahan dapat pula dilakukan dengan menaburkan Ventura 5GR bersamaan pemupukan dasar dengan dosis 5-10 kg/hektar. Untuk pengendaliannya dianjurkan menyemprot dengan Matrix 200EC dengan konsentrasi 1-2 mililiter per liter bergantian dengan Promectin 18EC dengan konsentrasi 0,5-1 mililiter per liter.

Kepik hijau (Nezara viridula). 

  • Gejala: Polong dan biji menjadi mengempis, polong gugur, biji menjadi busuk, hingga berwarna hitam. Kulit biji menjadi keriput dan adanya bercak coklat pada kulit biji.
  • Pengendalian: Mengumpulkan dan memusnahkan telur-telurnya, penyemprotan Beauveria bassiana atau Pestisida organik cair. 

Keong Mas (Pomacea canaliculata)

  •  Gejala: Memarut jaringan tanaman dan memakannya, menyebabkan adanya bibit yang hilang per tanaman. 
  •  Pengendalian: (1) Waktu kritis untuk mengendalikan serangan keong mas adalah pada saat 10 hst atau 21 hari setelah sebar benih (benih basah); (2) Jika petani petani menanam dengan sistem tanam pindah maka pada 15 hari setelah tanam pindah, perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian (flash flood = intermitten irrigation). Bila petani menanam dengan sistem tabela (tanam benih secara langsung), selama 21 hari setelah sebar benih sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi secara bergantian; (3) Bila di sawah diketahui terdapat telur berwarna merah muda dan keong mas dengan berbagai ukuran serta warna, perlu dilakukan pengaturan air, keong mas menyenangi tempat-tempat yang digenangi air; (4) Bila diperlukan, aplikasi pestisida berbahan aktif niclos amida dan moluska botani dapat dilakukan di sawah yang tergenang, di caren atau cekungan-cekungan yang ada airnya tempat keong mas berkumpul.


Hama tikus (Rattus argentiventer).  

  • Gejala: Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah, adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman. 
  • Pengendalian: Pergiliran tanaman, tanam serempak, sanitasi, gropyokan, melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu, penggunaan Aromatic.

Burung.

  • gejala: Menyerang menjelang panen, tangkai buah patah, biji berserakan. 
  • Pengendalian: Mengusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.


Penyakit Bercak daun coklat. Penyebab: jamur Helmintosporium oryzae

  • Gejala: Menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan kecambah mati. 
  • Pengendalian:  Merendam benih di air hangat + POC Khusus, pemupukan berimbang, tanam padi tahan penyakit ini.

Penyakit Blast. Penyebab: jamur Pyricularia oryzae

  • Gejala: Menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk. Pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa. 
  • Pengendalian: (1) Membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani, Cimandiri IR-48, IR-36, pemberian pupuk N di saat pertengahan fase vegetatif dan fase pembentukan bulir; (2) Pemberian Gliocladium virens dan Corynebacterium di awal tanam.

Busuk pelepah daun. Penyebab: jamur Rhizoctonia sp.

  • Gejala: Menyerang daun dan pelepah daun pada tanaman yang telah membentuk anakan. Menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun. 
  • Pengendalian: (1) Menanam padi tahan penyakit (2) Pemberian Gliocladium virens pada saat pembentukan anakan.



Penyakit kresek/hawar daun. Penyebab: bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae)

  • Gejala: Menyerang daun dan titik tumbuh. Terdapat garis-garis di antara tulang daun, garis melepuh dan berisi cairan kehitam-hitaman, daun mengering dan mati. 
  • Pengendalian: (1) Menanam varitas tahan penyakit seperti IR 36, IR 46, Cisadane, Cipunegara, menghindari luka mekanis, sanitasi lingkungan; (2) Pengendalian diawal dengan Gliocladium virens.

Penyakit kerdil. Penyebab: virus ditularkan oleh wereng coklat Nilaparvata lugens

  • Gejala: Menyerang semua bagian tanaman, daun menjadi pendek, sempit, berwarna hijau kekuning-kuningan, batang pendek, buku-buku pendek, anakan banyak tetapi kecil. 
  • Pengendalian: Sulit dilakukan, usaha pencegahan dengan memusnahkan tanaman yang terserang ada mengendalikan vector dengan Beauveria bassiana atau Pestisida organik cair.

Penyakit tungro. Penyebab: virus yang ditularkan oleh wereng hijau Nephotettix
impicticeps.
  • Gejala: Menyerang semua bagian tanaman, pertumbuhan tanaman kurang sempurna, daun kuning hingga kecoklatan, jumlah tunas berkurang, pembungaan tertunda, malai kecil dan tidak berisi.
Pengendalian: Menanam padi tahan wereng seperti Kelara, IR 52, IR 36, IR 48, IR 54, IR 46, IR 42 dan mengendalikan vektor virus dengan Beauveria bassiana.